Dulu, ketika Rasulullah SAW masih ada, jika ada suatu
permasalahan atau perbedaan pendapat antara para sahabat, perbedaan pendapat
itu dapat dengan mudah diselesaikan lewat perkataan atau hadits Nabi Muhammad
SAW. Tapi, setelah Nabi Muhammad wafat, ketika ada suatu perbedaan pendapat di
antara para sahabat, permasalahan tersebut tidak menemui jalan akhir. Sehingga
menimbulkan perselisihan serta pertentangan di kalangan para sahabat. Pada
awalnya perselihan itu terjadi karena perbedaan panutan pada pemimpin masing-masing,
tetapi kemudian merambah ke persoalan aqidah. Sejak saat itu, pembahasan
tentang aqidah semakin meluas terutama
tentang hakikat tuhan dan manusia.
tentang hakikat tuhan dan manusia.
Kemudian lahirlah dua kelompok yang muncul sebagai
penengah. Kelompok ini dinamakan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dua kelompok itu
adalah kelompok Asy’ariyah yang didirikan oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan
kelompok Maturidiyah yang didirikan oleh Abu Manshur al-Maturidi. Asy’ariyah
pada saat itu menjadi penengah antara kelompok Jabariyah dan Qadariyah dalam
permasalahan perbuatan manusia. Kelompok Jabariyah berpendapat bahwa Allah yang menjalankan perbuatan manusia sedangkan manusia tidak dapat melakukan apapun. Sedangan kelompok Qadariyah berpendapat bahwa perbuatan yang dilakukan oleh manusia merupakan keinginan manusia itu sendiri, bukan Allah yang menjalankan. Jadi, menurut Jabariyah kekuasaan Allah sudah pasti dan menurut Qadariyah kekuasaan Allah terbatas.
permasalahan perbuatan manusia. Kelompok Jabariyah berpendapat bahwa Allah yang menjalankan perbuatan manusia sedangkan manusia tidak dapat melakukan apapun. Sedangan kelompok Qadariyah berpendapat bahwa perbuatan yang dilakukan oleh manusia merupakan keinginan manusia itu sendiri, bukan Allah yang menjalankan. Jadi, menurut Jabariyah kekuasaan Allah sudah pasti dan menurut Qadariyah kekuasaan Allah terbatas.
Sebagai penengah, Asy’ariyah menjelaskan bahwa manusia
diciptakan oleh Allah, tetapi manusia mempunyai kebebasan untuk melakukan
sesuatu. Dengan begitu, manusia dapat selalu berusaha secara kreatif dalam
kehidupannya, akan tetapi tidak melupakan bahwa Allah yang menentukan semuanya.
Asy’ariyah juga menjelaskan tentang konsep kekuasaan
mutlak tuhan. Menurut Mu’tazilah, Tuhan wajib berlaku adil, Tuhan wajib
memasukkan orang baik ke dalam Surga dan memasukkan orang jahat ke dalam
Neraka. Konsep seperti itu diotlak oleh Asyariyah. Jika Tuhan wajib memasukkan
yang baik ke Surga dan yang jahat ke Neraka, itu artinya kekuasan tuhan
terhadap makhluknya terbatas. Meskipun di dalam Al-Qur’an Allah berfirman
seperti itu, tapi bukan berarti kekuasaan Allah terbatas. Segala keputusan
tetap ada pada kekuasaan Allah.