Selasa, 28 April 2015

Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah [test posting]



Dulu, ketika Rasulullah SAW masih ada, jika ada suatu permasalahan atau perbedaan pendapat antara para sahabat, perbedaan pendapat itu dapat dengan mudah diselesaikan lewat perkataan atau hadits Nabi Muhammad SAW. Tapi, setelah Nabi Muhammad wafat, ketika ada suatu perbedaan pendapat di antara para sahabat, permasalahan tersebut tidak menemui jalan akhir. Sehingga menimbulkan perselisihan serta pertentangan di kalangan para sahabat. Pada awalnya perselihan itu terjadi karena perbedaan panutan pada pemimpin masing-masing, tetapi kemudian merambah ke persoalan aqidah. Sejak saat itu, pembahasan tentang aqidah semakin meluas terutama
tentang hakikat tuhan dan manusia.
Kemudian lahirlah dua kelompok yang muncul sebagai penengah. Kelompok ini dinamakan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dua kelompok itu adalah kelompok Asy’ariyah yang didirikan oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan kelompok Maturidiyah yang didirikan oleh Abu Manshur al-Maturidi. Asy’ariyah pada saat itu menjadi penengah antara kelompok Jabariyah dan Qadariyah dalam
permasalahan perbuatan manusia. Kelompok Jabariyah berpendapat bahwa Allah yang menjalankan perbuatan manusia sedangkan manusia tidak dapat melakukan apapun. Sedangan kelompok Qadariyah berpendapat bahwa perbuatan yang dilakukan oleh manusia merupakan keinginan manusia itu sendiri, bukan Allah yang menjalankan. Jadi, menurut Jabariyah kekuasaan Allah sudah pasti dan menurut Qadariyah kekuasaan Allah terbatas.
Sebagai penengah, Asy’ariyah menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah, tetapi manusia mempunyai kebebasan untuk melakukan sesuatu. Dengan begitu, manusia dapat selalu berusaha secara kreatif dalam kehidupannya, akan tetapi tidak melupakan bahwa Allah yang menentukan semuanya.

Asy’ariyah juga menjelaskan tentang konsep kekuasaan mutlak tuhan. Menurut Mu’tazilah, Tuhan wajib berlaku adil, Tuhan wajib memasukkan orang baik ke dalam Surga dan memasukkan orang jahat ke dalam Neraka. Konsep seperti itu diotlak oleh Asyariyah. Jika Tuhan wajib memasukkan yang baik ke Surga dan yang jahat ke Neraka, itu artinya kekuasan tuhan terhadap makhluknya terbatas. Meskipun di dalam Al-Qur’an Allah berfirman seperti itu, tapi bukan berarti kekuasaan Allah terbatas. Segala keputusan tetap ada pada kekuasaan Allah.
 
 

  Template by Ipietoon Design by Wildan Rahmawan